Showing posts with label Way of Cross. Show all posts
Showing posts with label Way of Cross. Show all posts

Lurung Kamulyan 'Palerenan 14'

  • 0






























Perhentian ke-14 Jalan Salib:
Yesus dimakamkan.
'Sudah selesai. Sudah berhasil yang diupayakan dan dibangun, yakni cinta kasih sejati.'


Cat minyak pada kanvas
70cm x 50cm
karya Herjaka HS 2015


Dipajang di Gereja Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta



14th Station of The Way of The Cross:
Jesus is laid in the tomb.
'It's finished. All that have been worked for, and all that've been built for love is done successfully.'


Oil on canvas
70cmx50cm
Herjaka HS 2015

Displayed at Church of Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta

Lurung Kamulyan 'Palerenan 13'
































Perhentian ke-13 Jalan Salib:
Yesus diturunkan dari salib.
'Agar dapat tumbuh berkembang, suatu benih harus hancur dan hilang. Demikian pula berlaku untuk cinta kasih.'


Cat minyak pada kanvas
70cm x 50cm
karya Herjaka HS 2015


Dipajang di Gereja Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta



13th Station of The Way of The Cross:
The body of Jesus is taken down from the cross.
'In order to grow and be fruitful, a seed have to disappear and destroyed in the process. That also applied for love.'


Oil on canvas
70cmx50cm
Herjaka HS 2015

Displayed at Church of Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta

Lurung Kamulyan 'Palerenan 12'

  • 0































Perhentian ke-12 Jalan Salib:
Yesus wafat di kayu salib.
'Tumpahnya darah dari lambung Sang Pewarta yang tergantung di salib karena kasih yang amat sangat pada sahabat-sahabatnya.'


Cat minyak pada kanvas
70cm x 50cm
karya Herjaka HS 2015


Dipajang di Gereja Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta



12th Station of The Way of The Cross:
Jesus dies on the cross.
'Blood that streams out of the belly of The Herald that's hanging on a cross is because of the profound love to His people.'


Oil on canvas
70cmx50cm
Herjaka HS 2015

Displayed at Church of Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta

Lurung Kamulyan 'Palerenan 11'

  • 0































Perhentian ke-11 Jalan Salib:
Yesus disalibkan.
'Meski hanya sedikit, tiap manusia memiliki naluri binatang. Dan bila dibiarkan naluri itu bisa tumbuh dan mengakibatkan seseorang menjadi ganas dan kehilangan kemanusiaanya.'


Cat minyak pada kanvas
70cm x 50cm
karya Herjaka HS 2015


Dipajang di Gereja Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta



11th Station of The Way of The Cross:
Jesus is nailed to the cross.
'Even just a little, human have animal instinct. It can grow and make someone lose its humanity.'


Oil on canvas
70cmx50cm
Herjaka HS 2015

Displayed at Church of Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta

Lurung Kamulyan 'Palerenan 10'

  • 0































Perhentian ke-10 Jalan Salib:
Pakaian Yesus ditanggalkan.
'Jika ingin jujur, hati ini akan tertawa tiap melihat sesama menanggung malu. Maka tak heran bila omongan serta tingkah laku sering membuat orang lain malu, merasa ditelanjangi.


Cat minyak pada kanvas
70cm x 50cm
karya Herjaka HS 2015


Dipajang di Gereja Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta



10th Station of The Way of The Cross:
Jesus' clothes are taken away.
'If you want the truth, truth is, one's heart will laugh when a fellow is being humiliated. It is no wonder if one's act or words often make others feel humiliated, like being stripped.


Oil on canvas
70cmx50cm
Herjaka HS 2015

Displayed at Church of Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta

Lurung Kamulyan 'Palerenan 9'

  • 0































Perhentian ke-9 Jalan Salib:
Yesus jatuh untuk ke tiga kalinya.
'Jatuh berulangkali bukan berarti seseorang kehilangan kekuatan dan pengharapan. Namun itu berarti seseorang telah menapaki jalan yang panjang dan hampir sampai ke tempat tujuan.'


Cat minyak pada kanvas
70cm x 50cm
karya Herjaka HS 2015


Dipajang di Gereja Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta



9th Station of The Way of The Cross:
Jesus falls for the third time.
'Fall over and over again doesn't mean one loses hopes and strengths. But that means one have taken a long journey and almost get to the destination.'


Oil on canvas
70cmx50cm
Herjaka HS 2015

Displayed at Church of Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta

Lurung Kamulyan 'Palerenan 8'

  • 0































Perhentian ke-8 Jalan Salib:
Yesus menghibur perempuan-perempuan yang menangisinya.
'Berefleksi perlu untuk membangun hidup rohani yang lebih baik dan sempurna.'


Cat minyak pada kanvas
70cm x 50cm
karya Herjaka HS 2015


Dipajang di Gereja Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta


















8th Station of The Way of The Cross:
Jesus meets the women of Jerusalem.
'Reflecting is prominently to build avbetter spiritual life.'

Oil on canvas
70cmx50cm
Herjaka HS 2015

Displayed at Church of Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta




Lurung Kamulyan 'Palerenan 7'

  • 0






























Perhentian ke-7 Jalan Salib:
Yesus jatuh untuk kedua kalinya.
'Ketika jatuh lagi, pertanda bahwa manusia itu lemah dan membutuhkan kekuatan dari Tuhan untuk bangkit dan meneruskan perjalanan.'


Cat minyak pada kanvas
70cm x 50cm
karya herjaka HS 2015

Dipajang di Gereja Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta


7th Station of The Way of The Cross:
Jesus falls for the second time.
'When one falls for the second time, it means that one is weak, thus, he needs help from God to rise and continue the life journey.

Oil on canvas
70cmx 50 cm
Herjaka HS 2015
Displayed at the Church of Santa Maria Assumpta
Gamping, Yogyakarta

Lurung Kamulyan 'Palerenan 6'

  • 0
































Perhentian ke-6 Jalan Salib:
Wajah Yesus diusap oleh Veronika.
'Belas kasih disertai keberanian, tidak takut menghadang rintangan demi menolong mereka yang mengundang iba.'


Cat minyak pada kanvas
70cm x 50cm
karya herjaka HS 2015

Dipajang di Gereja Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta




6th Station of The Way of The Cross:
Veronica wipes the face of Jesus.
'Compassion with courage will never be afraid of those circumstances that can stop you from helping.'


Oil on canvas
70cmx 50 cm
Herjaka HS 2015
Displayed at the Church of Santa Maria Assumpta


Gamping, Yogyakarta

Lurung Kamulyan 'Palerenan 5'

  • 0
































Perhentian ke-5 Jalan Salib:
Yesus ditolong oleh Simon dari Kirene.
'Menolong dapat meringankan beban mereka yang butuh pertolongan.'


Cat minyak pada kanvas
70cm x 50cm
karya herjaka HS 2015
Dipajang di Gereja Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta
  

5th Station of The Way of The Cross:
Simon of Cyrene helps Jesus to carry his cross.
'Helping, can lighten the burden of the one who needs.

Oil on canvas
70cmx 50 cm
Herjaka HS 2015
Displayed at the Church of Santa Maria Assumpta
Gamping, Yogyakarta

Lurung Kamulyan 'Palerenan 4'

  • 0
































Perhentian ke-4 Jalan Salib:
Yesus berjumpa dengan ibunya.
'Berjalan ke Golgota penuh aniaya, Ibunda menangis melihat Putra Terkasih memanggul salib.

Cat minyak pada kanvas
70cm x 50cm
karya herjaka HS 2015
Dipajang di Gereja Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta




4th Station of The Way of Cross:

Jesus meets His mother.
'Walking to Golgota full of tortures, Mother cries seeing her beloved Son carries the cross.

Oil on canvas

70cmx 50 cm
Herjaka HS 2015
Displayed at the Church of Santa Maria AssumptaGamping, Yogyakarta



Lurung Kamulyan 'Palerenan 3'

  • 0






























Perhentian ke-3 Jalan Salib:
Yesus jatuh untuk pertama kalinya.
'Siapa yang tak pernah jatuh ketika menapaki jalan hidup? Bukan masalah jatuhnya, namun ketika tak mau bangkit, itulah masalah.'


Cat minyak pada kanvas
70cm x 50cm
karya herjaka HS 2015
Dipajang di Gereja Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta

3rd Station of The Way of Cross:
Jesus falls the first time.
'Who never fall when stepping on the way of life? It is not the fall which makes a problem, but when one never get up after the fall, that is a problem.'

  Oil on canvas
  70cmx 50 cm
  Herjaka HS 2015
  Displayed at the Church of Santa Maria Assumpta
Gamping, Yogyakarta


Lurung Kamulyan 'Palerenan 2'

  • 0

Perhentian ke-2 Jalan Salib:
Yesus memanggul salib
'Setiap orang menanggung dosanya sendiri-sendiri. Bahkan ada yang terpaksa menanggung dosa orang lain karena menjadi korban kejahatan orang-orang tersebut.'

Cat minyak pada kanvas
70cm x 50cm
karya herjaka HS 2015
Dipajang di Gereja Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta


'  2nd Station of The Way of Cross:
  Jesus carries His cross.
  Every person bears their own sins. Sometimes even they have
  to bear other person's sins as they being the
  victim of their wrongs.

 Oil on canvas
 70cmx 50 cm
 Herjaka HS 2015
 Displayed at the Church of Santa Maria Assumpta, Gamping,
 Yogyakarta

Lurung Kamulyan 'Palerenan 1'

  • 0

Perhentian pertama Jalan Salib: 
Yesus dijatuhi hukuman mati.
Ponsius Pilatus sebagai penguasa 'mencuci tangan' tak ingin ikut berdosa dalam penyaliban Yesus yang dinilainya tak bersalah.

Cat minyak pada kanvas
70cm x 50cm
karya Herjaka HS 2015
Dipajang di Gereja Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta



First station of The Way of Cross
Jesus is condemned to death.
Pontius Pilatus as the governor did not want to be involved in the sin of murdering Jesus, the man he believed was innocent.

Oil on canvas
70cmx50cm
Herjaka HS 2015
Displayed at Church of Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta



Seri Lukisan 'Lurung Kamulyan'



Herjaka Hs kembali memamerkan lukisan-lukisan wayangnya yang khas, berdasarkan wayang purwa gaya Yogyakarta. Yang agak berbeda, kali ini lukisan-lukisan yang dipamerkan memvisualkan jalan salib Yesus Kristus.

Sebagaimana lazimnya lukisan jalan salib di gereja dan tempat ziarah, ada 14 lukisan yang merupakan rangkaian fragmen sejak keputusan Gubernur Ponsius Pilatus hingga pemakaman Yesus. Lukisan-lukisan ini telah dipasang di Gereja Santa Maria Assumpta, Gamping, Yogyakarta. Sebelumnya dipamerkan dulu di Tembi Rumah Budaya, 23 Juli – 5 Agustus 2015.

Herjaka melukiskan fragmen-fragmen ini dalam figur wayang kulit, dipadu gaya realis dan stilisasi obyek. Tokoh-tokohnya tampil dalam dua dimensi dengan anatomi, mimik dan gesture yang khas. Hasilnya, karya-karya yang anggun, estetis, serta arkais.  

Sedikitnya ada dua hal yang bisa dicatat. Pertama, Herjaka melukis dalam format wayang bukan dengan mengambil tokoh atau kisah wayang. Ia lebih membuat transformasi bentuk wayang. Dengan menonjolkan wayang, bukan tokoh atau kisah wayang, maka substansi wayang secara lebih otonom sebagai ‘bayang-bayang’ kehidupan atau manusia di dunia terasa lebih mencolok. Wayang sebagai pelajaran, petunjuk dan tuntunan hidup. Lewat perspektif ini, pesan jalan salib semakin mengena.

Kedua, lakon yang diambil sepenuhnya berasal dari luar kisah wayang. Lakon berasal dari kata ‘laku’ atau jalan, yang dikaitkan dengan kehidupan. Dalam pameran ini, jalan yang diangkat Herjaka adalah jalan kemuliaan, sesuai tema pameran, ‘Lurung Kamulyan’. Jalan salib Yesus Kristus adalah wujud jalan kemuliaan. Keteladanan Yesus yang menempuh jalan salib yang menyakitkan dan memilukan dengan ketegaran luar biasa berlandaskan cinta kasih. Representasi praktik cinta sejati dan ‘menjadi’ (being) yang paripurna.

Tepatlah ketika Herjaka menyebut cinta sejati sebagai syarat jalan kemuliaan. Kemuliaan adalah salah satu harkat manusia yang terutama. Bukan dalam artian materi namun dalam artian nilai, sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Dalam zaman kekerasan, cinta kasih diperlukan untuk memutus lingkaran setan kekerasan. Begitu pula terhadap dampak dehumanisasi peradaban, sungguh cinta kasih wajib kian dikedepankan.

Juga bisa digarisbawahi pesan-pesan universal Herjaka pada fragmen jalan salib ini. Semisal, pentingnya semangat dan aksi bangun dari kejatuhan. Dan pada tingkat tertentu, tangan cinta kasih Tuhanlah yang membantu kita bangun. Atau misalnya, aksi mewujudkan cinta kasih membutuhkan keberanian, tindakan mawas diri atau menilai diri sendiri memerlukan pengingatan, dan sebagainya.

Selain itu, lukisan wayang jalan salib ini penting dalam konteks relasi budaya dan agama. Bagaimana keduanya dapat bersinergi untuk menghidupkan nilai-nilai positif demi kualitas kehidupan yang lebih baik. Bukan budaya ansich atau agama ansich tapi cinta kasih Tuhan yang dipraktikkan. Urip lan nguripi, dan memayu hayuning bawono. Sejarah di Indonesia, khususnya di Jawa, menunjukkan bahwa budaya lokal berperan penting dalam mengakarkan substansi ajaran agama.

Karenanya, lukisan-lukisan ‘Lurung Kamulyan’ ini merupakan karya estetis sekaligus etis, memikat sekaligus bernas, enak dilihat dan perlu direnungkan.

Tulisan pengantar dari

A. Barata
Tembi Rumah Budaya

(dengan sedikit perubahan)