Showing posts with label arjuna. Show all posts
Showing posts with label arjuna. Show all posts

PERJALANAN TERAKHIR

  • 0

PERJALANAN TERAKHIR

Seusai perang suci Baratayuda, perang melawan angkaramurka, tugas pokok sebagai ksatria dapat dikatakan sudah selesai. Lima bersaudara yang terdiri dari  Puntadewa, Wrekudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa, mengadakan perjalanan terakhir, menuju tanah terjanji. Tanah yang baunya harum semerbak, membawa suasana damai dan menentramkan. Mereka ingin tinggal di sana untuk selamanya.
Namun untuk tinggal di suasana yang membahagiakan selamanya tersebut tidak semudah seperti yang digambarkan. Walaupun ia sudah menyelesaikan tugasnya di dunia dengan baik, mereka jatuh satu persatu di tengah jalan, sebelum mencapai tanah yang dituju. Satu-satunya yang tidak jatuh sampai tanah terjanji adalah Puntadewa bersama anjingnya, yang adalah jelmaan Batara Darma.

ink on paper
86cm x 57cm
karya herjaka HS 1995

koleksi: Bp. Hariadi Saptono, Yogyakarta

Wahyu Makutarama

  • 0


























Raden Harjuna menerima Wahyu Makutharama dari Begawan Kesawasidi. Wahyu tersebut berisi ajaran Hastabrata, yang pernah diajarkan Prabu Rama kepada Gunawan Wibisana ketika akan menjadi raja di Alengkadiraja. Hastabrata adalah delapan laku yang seharusnya diupayakan untuk diterapkan dalam kehidupan setiap orang pada umumnya dan setiap pemimpin pada khususnya, agar dapat menciptakan kedamaian serta mengantar kesejahteraan bagi rakyat dan sesama.
Delapan laku tersebut, yaitu:
1. Berwatak Matahari: memberi energi dan daya hidup. 2. Berwatak Bulan: menerangi bagi mereka yang berada dalam kegelapan sehingga memberi rasa keindahan, ketentraman 3. Berwatak Bintang: menjadi penghias dan pedoman arah  bagi mereka yang kehilangan arah dimalam hari. 4. Berwatak Angin: dapat mengisi setiap ruangan yang kosong dan dapat melakukan tindakan yang teliti, cermat dalam menyelami kehidupan. 5. Berwatak Mendung, berwibawa menakutkan, tetapi sesudah menjadi air dapat menghidupkan segala tumbuhan dan memberi manfaat bagi semua. 6. Berwatak Api: bertindak tegas, adil, tidak pandang bulu. 7. Berwatak Samudra: mempunyai pandangan yang luas, rata dan sanggup menerima persoalan apapun tanpa kebencian 8. Berwatak Bumi: mempunyai sifat sentosa, suci dan jujur serta memberi anugerah kepada yang berjasa.
Setiap orang yang memiliki delapan sifat alam tersebut, hidupnya akan bermahkota seperti layaknya seorang Raja. Raja yang melayani. Bukan raja yang berkuasa dan menguasai serta berkelimpahan harta kekayaan, seperti bayangan Duryudana dan Dursasana.

Cat Minyak di atas Kanvas
70 cm x 50 cm

Karya Herjaka HS 1997

PERJALANAN ARJUNA

  • 0






Tembang Clunthang Rinengga:
Tindhake Sang Pekik mandhap saking gunung
anganthti perpat panakawan catur
kang anembe mulat pindha dewa darat
geder betrek-betrek lir endhang swarane
anjawat angawe-awe ngujiwat
solahe lir endah sengseme
dhuh Raden Sang Abagus
mugi keparenga pinarak wisma kula
amethika sekar mlathi arum amrik wangi
kagema cundhuk sesumping
sosongan amimbuhi mencorong cahyanira Raden

tembang ini menggambarkan ketika Raden Herjuna turun dari gunung Saptarengga, setelah selesai mencecap ilmu kebijaksanaan dari Begawan Abiyasa. Dengan ilmu tersebut  Sang Guru berharap agar Herjuna  ikut ‘memayu hayuning bawana’ memperindah dunia sehingga membawa keselamatan bagi semua ciptaan. Di sepanjang jalan  para kawula mengelu-elukan dan berharap agar Herjuna mau singgah dirumahnya untuk saling membagikan sukacita, keindahan, ketentraman dan keselamatan.

Cat minyak pada kanvas
140 cm x 90 cm
Karya herjaka HS 2007
koleksi Ibu : Ir. Shanti Lasminingsih Poesposoetjipto
Jakarta

Arjuna’s Journey
The Clunthang Rinengga Song describes when Arjuna went down Saptarengga Mountain after learned about wisdom from Begawan Abiyasa. After he got the knowledge, Abiyasa hoped that Arjuna can contribute to ‘memayu hayuning bawana’, make the world more beautiful for all creatures. Along the road, people praised Arjuna and hoped that he would come by their houses to share the happiness and welfare.
Oil on canvas 140 cm x 90 cm, Herjaka HS 2007


Collected by  Ir. Shanti Lasminingsih Poesposoetjipto, Jakarta

BIDADARI MELAGUKAN PUJIAN ABADI (BHAGAWATGITA)

  • 0











Sorak-sorai dan pujian dari para bidadari yang menggema di atas langit Kurusetra sesungguhnya untuk mengajak yang bertikai (Arjuna dan Karna) untuk saling merenungkan apakah perang Baratayudha tidak bisa dihentikan? Kresna memberi wejangan kepada Arjuna “Perang suci melawan angkara murka harus tetap dilanjutkan, jangan berhenti di tengah jalan.” Karena  dengan menghentikan perang ini sama halnya dengan membiarkan ketidak adilan hidup di muka bumi.  
tinta pada kertas, 48 cm x 34 cm, karya Herjaka HS 2006
koleksi Miss Beatrix, pianis dari Jerman (31 Okt 2009)

Bhagawatgita (The Angels Sang Eternal Praise)
The song of angels from above Kurusetra’s sky was actually sung to make the two opponents (Arjuna and Karna)to think again, “Can’t Baratayudha be stopped?” Then Kresna gave advice to Arjuna, “The holy war to fight evil should be continued. Don’t stop it.”
Because stopping this war means letting injustice lives in this world.

Ink on paper 48 cm x 34 cm, Herjaka HS 2006
Collected by Miss Beatrix, Germany



Pelangi

  • 0


Adalah titik air yang memantulkan tujuh warna cahaya nan indah. Dalam serat Arjuna Wiwaha yang ditulis oleh empu Kanwa pada tahun 1019 Masehi, keindahan pelangi digambarkan dengan keindahan tujuh bidari yang bernama: Batari Supraba, Batari Wilutama, Batari Warsiki, Batari Surendra, Batari Gagar Mayang, Batari Tunjung Biru dan Batari Lengleng Mulat. Ketujuh Bidadari tersebut turun dari kahyangan membentuk titik-titik air berwarna pelangi menuju gunung Indrakila, untuk menggoda Arjuna atau Herjuna yang artinya  sumbernya air (her = air, Jun = tempat air). Peristiwa tersebut digambarkan sebagai lengkungan pelangi dari langit menuju sendang. Sungguh indah mempesona.

Jika saat ini, terutama di Jakarta (gambar Monas dan gedung-gedung) air tidak indah lagi, bahkan menjadi sumber bencana, tentunya ada yang salah dalam mengelola air.

Rainbow
It is a water molecule that refracts seven beautiful lights. In Arjuna Wiwaha, a book written by Empu Kanwa in 1019, the beauty of rainbow was personalized as the beauty of seven goddess named: Batari Supraba, Batari Wilutama, Batari Warsiki, Batari Surendra, Batari Gagar Mayang, Batari Tunjung Biru, and Batari Lengleng Mulat. Those seven goddess went down from heaven forming water drops with rainbow color and headed to Indrakila mount, to tempt Arjuna or Herjuna, his name meant water container. That event described as a rainbow from the sky down to a water spring. A breathtaking beauty.

But now, especially in Jakarta, water is no longer beautiful. Instead it cause a disaster, there must be mistakes in managing the water.

Oil on canvas
100 cm x 150 cm

Anak Polah Ibu Pradah

  • 0


Dewasrani mengadu kepada Ibunya agar dikawinkan dengan Dewi Dersanala, pasangan Herjuna.
(a Javanese proverb) - Dewasrani asked his mother to get him married to Dewi Dersanala, Herjuna’s girlfriend.

Meredam Pertikaian



Durna menjalani laku batin untuk meredam bertikaian dua murid terbaiknya yaitu, Harjuna dan Ekalaya.
Muffling the Fight – Durna underwent a spiritual action muffled the fight between his two best disciples Harjuna and Ekalaya.

Gandewa

  • 0

Durna mewariskan Gandewa pusaka kepada Herjuna, murid kesayangannya.
Gandewa – Durna bequeathed the Gandewa weapon to Herjuna, his beloved disciple.

Dua Murid Pilihan


Harjuna dan Ekalaya saling berhadapan untuk membuktikan kepada Guru Durna, siapakah di antara keduanya yang pantas menjadi murid nomor satu di Sokalima.
The Two Chosen Students – Harjuna and Ekalaya battled it out to attest to Guru Drona who was deserved to be the number one student in Sokalima.