Showing posts with label cat minyak. Show all posts
Showing posts with label cat minyak. Show all posts

PERJALANAN ARJUNA

  • 0






Tembang Clunthang Rinengga:
Tindhake Sang Pekik mandhap saking gunung
anganthti perpat panakawan catur
kang anembe mulat pindha dewa darat
geder betrek-betrek lir endhang swarane
anjawat angawe-awe ngujiwat
solahe lir endah sengseme
dhuh Raden Sang Abagus
mugi keparenga pinarak wisma kula
amethika sekar mlathi arum amrik wangi
kagema cundhuk sesumping
sosongan amimbuhi mencorong cahyanira Raden

tembang ini menggambarkan ketika Raden Herjuna turun dari gunung Saptarengga, setelah selesai mencecap ilmu kebijaksanaan dari Begawan Abiyasa. Dengan ilmu tersebut  Sang Guru berharap agar Herjuna  ikut ‘memayu hayuning bawana’ memperindah dunia sehingga membawa keselamatan bagi semua ciptaan. Di sepanjang jalan  para kawula mengelu-elukan dan berharap agar Herjuna mau singgah dirumahnya untuk saling membagikan sukacita, keindahan, ketentraman dan keselamatan.

Cat minyak pada kanvas
140 cm x 90 cm
Karya herjaka HS 2007
koleksi Ibu : Ir. Shanti Lasminingsih Poesposoetjipto
Jakarta

Arjuna’s Journey
The Clunthang Rinengga Song describes when Arjuna went down Saptarengga Mountain after learned about wisdom from Begawan Abiyasa. After he got the knowledge, Abiyasa hoped that Arjuna can contribute to ‘memayu hayuning bawana’, make the world more beautiful for all creatures. Along the road, people praised Arjuna and hoped that he would come by their houses to share the happiness and welfare.
Oil on canvas 140 cm x 90 cm, Herjaka HS 2007


Collected by  Ir. Shanti Lasminingsih Poesposoetjipto, Jakarta

GUNUNGAN

  • 0










Di Saptaharga, desa tujuh gunung, masyarakat mengarak Gunungan yang dibuat dari hasil bumi dan hasil budidaya kawula Saptaharga, sebagai ungkapan syukur atas kemurahan Tuhan yang telah dilimpahkan. Ki Lurah Semar dan tetua desa memimpin upacara kirab tersebut dengan mendaraskan doa keselamatan bagi seluruh warganya.

Cat minyak pada kanvas
145 cm x 95 cm
Karya herjaka HS 2008
Koleksi Teguh Puji Harsono
Tegal Jawa Tengah

Gunungan (Offering made from crops with tall conical shape, like a mountain)
In Saptaharga, a village with seven mountains, the local people carried a Gunungan made from their crops as a symbol of gratitude for God. Semar and other elders of the village led the procession with a prayer for all people’s welfare.
Oil on canvas, 145 cm x 95 cm, herjaka HS 2008
Collected by Teguh Puji Harsono, Tegal, Central Java

SRI RAWUH

  • 0









Para rakyat kecil yang diprakarsai oleh Petruk membuat boneka “Nini Thowong” dengan hiasan tanaman padi di kepala. Mereka bernyanyi-nyanyi, bak mendaraskan mantra-mantra suci, sambil menggerak-nggerakkan boneka, untuk memohon agar Mbok Rara Sri atau Dewi Padi, yang menjadi symbol kemakmuran berkenan ‘Rawuh’ datang dan berdiam diantara rakyat kecil. Jika permainan Nini Thowong ini berhasil, artinya bahwa Mbok Rara Sri benar-benar Rawuh, negara boleh berharap bahwa kemakmuran akan segera datang. Kesetiaan rakyat untuk selalu sabar menanti datangnya kemakmuran dan kesejahteraan di ekspresikan dalam litani nyanyian yang tak berkesudahan, ‘Bagea-bagea Mbok Rara lagi teka,  bagea-bagea Mbok Rara lagi teka, bagea-bagea ………

cat minyak pada kanvas
140 cm x 100 cm.
karya Herjaka HS, tahun 2009
Koleksi Bp. Teguh Puji Harsono dari Tegal

Sri Rawuh
Initiated by Petruk, the Amarta Kingdom civil cervants, created ‘Nini Thowong’ puppet, decorated with rice stalks on her head. They sang sacred mantras while playing the puppet. They asked Mbok Rara Sri or Dewi Padi, the symbol of prosperity, to come to them. If the Nini Thowong play is successful, it is means that Mbok Rara Sri will come to them. They hoped that prosperity would come to them soon. Their patience and loyality in waiting for prosperity is expressed in the unfinished song. “Bagea-bagea Mbok Rara lagi teka, bagea-bagea Mbok Rara lagi teka, bagea-bagea…” (Welcome, welcome, Mbok Rara is coming,  welcome, welcome Mbok Rara is coming, welcome, welcome…).

Oil on canvas
140 cm x 100, Herjaka HS, 2009
Collected by Teguh Puji Harsono, Tegal, Central Java



LOEMBOENG REDJO

  • 0









Loemboeng tegese oemah sing dienggo njimpen pari, redjo tegese tentrem toemrape wong akeh
Mengawali musim panen, Semar didampingi Dewi Kanestren membuat Tumpeng Robyong.  Tumpeng tersebut dimaksudkan sebagai tanda syukur atas rejeki yang melimpah di lumbung, dan sekaligus sebagai doa pengharapan agar hasil panen tersebut tidak hanya menjadi santapan ragawi, tetapi juga menjadi santapan jiwani. Dengan demikian setiap hati yang menikmati hasil panen tersebut akan merasakan ketenteraman lahir batin dan bersama-sama mendapatkan hidup yang tak berkesudahan.
Cat minyak pada kanvas, 80cm x 150cm, herjaka HS 2010
koleksi Bp. Teguh Puji Harsono dari Tegal

Lumbung Reja (Lumbung means rice barn, reja means satisfying crops, peaceful)
At the beginning of harvest season, Semar and Dewi Kanestren made Tumpeng Robyong. This special food was a symbol of gratitude for the satisfying harvest, and also a prayer so that the crops not only be physical food but also spiritual food. Thus, people who enjoyed the crops would feel peace together.

Oil on canvas, 80cm x 150cm, Herjaka HS 2010
Collected by Teguh Puji Harsono, Tegal, Central Java